Ketika mendengar kata campervan, bayangan yang muncul biasanya hampir selalu sama: tempat tidur, kompor, lemari kecil, tenda, lalu perjalanan ke gunung atau pantai.
Padahal, tidak semua orang suka camping.
Ada orang yang senang bepergian dengan mobil, tetapi ketika malam tiba tetap lebih memilih tidur nyaman di hotel. Ada juga yang pekerjaannya memungkinkan dilakukan dari mana saja, tetapi mulai bosan duduk delapan jam di ruangan dan melihat tembok yang sama setiap hari.
Dari situlah muncul ide yang sedikit berbeda:
Bagaimana kalau mobil tidak dibuat menjadi campervan, tetapi menjadi mobile office?
Bukan rumah berjalan. Bukan pula camper untuk bermalam.
Tetapi ruang kerja pribadi yang bisa berpindah-pindah.
Konsep Mobile Office Sebenarnya Bukan Hal Baru
Konsep kantor bergerak sudah ada sejak lama. Kendaraan operasional perusahaan, broadcasting van, kendaraan komando hingga kendaraan kerja lapangan sebenarnya menggunakan prinsip yang sama.
Yang menarik sekarang adalah konsep tersebut bisa dibuat dalam skala personal.
Laptop semakin hemat daya. Internet seluler semakin cepat. Meeting bisa dilakukan melalui Zoom atau Teams. Banyak pekerjaan bahkan sudah tidak memerlukan kantor secara fisik setiap hari.
Kalau begitu, kenapa meja kerja harus selalu berada di rumah?
Bayangkan pagi hari memarkir mobil di tempat yang teduh. Laptop dibuka, monitor dinyalakan, internet tersambung.
Beberapa jam kemudian bosan dengan pemandangannya?
Tutup laptop, pindahkan mobil.
Meja kerjanya tetap sama. Pemandangannya yang berubah.
Buat saya, justru bagian inilah yang membuat konsep mobile office menarik.
Campervan dan Mobile Office Punya Prioritas Berbeda
Meskipun sama-sama memodifikasi interior kendaraan, kebutuhan campervan dan mobile office sebenarnya cukup berbeda.
Campervan harus memikirkan tempat tidur, penyimpanan pakaian, perlengkapan memasak, air bersih dan berbagai kebutuhan untuk tinggal di kendaraan.
Mobile office tidak membutuhkan sebagian besar perlengkapan tersebut.
Ruang yang biasanya digunakan untuk tempat tidur bisa dialokasikan untuk sesuatu yang jauh lebih penting bagi orang yang bekerja berjam-jam:
kursi yang nyaman dan meja kerja yang ergonomis.
Ini penting.
Bekerja dengan laptop satu atau dua jam sambil duduk di jok mobil mungkin masih menyenangkan. Tetapi kalau digunakan lima sampai delapan jam, posisi monitor, tinggi meja, ruang kaki dan posisi duduk mulai terasa pengaruhnya.
Karena itu desain mobile office sebaiknya dimulai dari posisi manusia yang bekerja di dalamnya, bukan dari sebanyak apa peralatan yang bisa dimasukkan ke mobil.
MPV Besar Justru Menjadi Basis yang Menarik
Mobil seperti Hyundai H1 sangat menarik untuk konsep ini karena kabinnya besar dan tinggi.
Ada cukup banyak ruang untuk membuat meja, memasang monitor dan tetap mempertahankan ruang kaki.
Mobil lain dengan konfigurasi kabin luas juga bisa menggunakan pendekatan serupa.
Salah satu fitur yang sangat membantu adalah swivel seat, atau kursi yang dapat diputar.
Beberapa MPV seperti Nissan Serena C24 dan varian Hyundai H1 tertentu memiliki konfigurasi kursi yang mendukung konsep seperti ini. Kursi dapat dihadapkan ke area belakang sehingga kita tidak perlu membuat kursi kantor permanen di dalam kendaraan.
Tinggal buat meja pada posisi yang tepat di depannya.
Hasilnya menarik karena ketika mobil dipakai berkendara, interior masih berfungsi sebagai kendaraan penumpang. Ketika berhenti, kabinnya berubah menjadi tempat kerja.
Eksperimen Mobile Office di Hyundai H1
Foto-foto di artikel ini merupakan salah satu eksperimen yang pernah saya lakukan pada Hyundai H1.
Konsep awalnya cukup sederhana.
Saya ingin mengetahui apakah ruang belakang H1 benar-benar bisa digunakan untuk bekerja, bukan sekadar terlihat bagus dalam gambar desain.
Pada konfigurasi awal bahkan digunakan kursi terpisah dan sebuah meja kecil untuk mencoba posisi duduk serta ruang yang tersedia.
Setelah itu konsep berkembang.
Meja yang lebih proper bisa menampung laptop, mouse dan perangkat lainnya. Monitor tambahan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi sehingga bisa digunakan sebagai layar kedua ataupun untuk mengikuti meeting.
Pada salah satu konfigurasi, sebuah televisi/monitor berukuran cukup besar juga ditempatkan di dalam kabin.
Dan ternyata ruang H1 masih terasa cukup lega.
Yang paling menyenangkan justru sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ruang kerja biasa:
jendelanya.
Hari ini pemandangannya halaman rumah. Besok mungkin parkiran dengan pepohonan. Lain waktu bisa bekerja sambil menunggu anak sekolah, menunggu seseorang meeting, atau berhenti di tempat yang memang nyaman untuk bekerja.
Waktu menunggu yang biasanya terbuang bisa berubah menjadi waktu produktif.
Listrik Sekarang Relatif Mudah Diatasi
Beberapa tahun lalu salah satu masalah besar membuat mobile office adalah listrik.
Sekarang masalah ini jauh lebih mudah diselesaikan.
Portable power station berbasis baterai lithium sudah tersedia dalam berbagai kapasitas. Laptop sendiri umumnya hanya membutuhkan daya puluhan watt. Monitor LED juga relatif hemat.
Karena itu laptop, monitor, charger ponsel, modem dan beberapa perangkat elektronik lain sebenarnya bukan beban terbesar.
Kita bahkan dapat membuat sistem listrik terpisah dari sistem kelistrikan utama kendaraan.
Mesin mobil tidak harus terus hidup hanya karena kita sedang bekerja.
Tetapi kemudian muncul satu masalah yang jauh lebih besar.
Musuh Terbesar Mobile Office di Indonesia: Panas
Ini bagian yang menurut saya paling sulit.
Indonesia panas.
Mobil yang berhenti berubah menjadi ruangan tertutup yang menerima panas dari kaca dan body kendaraan. Membuka jendela dan menggunakan kipas mungkin cukup pada pagi hari atau di daerah sejuk.
Tetapi untuk bekerja pada siang hari selama beberapa jam?
AC hampir menjadi kebutuhan utama.
Menyalakan mesin mobil berjam-jam hanya untuk menjalankan AC tentu bukan solusi ideal. Selain menggunakan bahan bakar, ada suara dan getaran mesin serta berbagai pertimbangan lain ketika kendaraan harus idle dalam waktu lama.
Solusi yang lebih menarik adalah parking AC elektrik.
Sayangnya harga unit parking AC kendaraan masih relatif mahal. Produk impor yang banyak beredar dapat berada di kisaran beberapa juta rupiah dan untuk sistem tertentu harganya bisa mendekati Rp7 jutaan atau lebih, belum termasuk instalasi.
Di sinilah muncul eksperimen berikutnya.
Bagaimana Kalau Menggunakan AC Rumah?
Kedengarannya sedikit aneh.
Foto-foto ini memang hasil rekayasa AI, tapi saya berharap kalian paham maksud desainnya. Secara prinsip, ketika mobil sedang berhenti dan digunakan sebagai ruangan kerja, yang ingin kita dinginkan sebenarnya hanyalah sebuah ruangan kecil.
Volume kabin sebuah van bahkan jauh lebih kecil dibandingkan kamar tidur.
AC rumah mempunyai satu keuntungan besar:
harganya murah karena diproduksi massal.
Masalahnya tentu pada instalasi.
AC split konvensional mempunyai unit indoor, outdoor, pipa refrigeran dan instalasi yang kurang praktis untuk kendaraan.
Tetapi ada satu jenis AC yang jauh lebih menarik untuk eksperimen ini:
Window AC
Unit seperti Reiwa window AC, misalnya, bisa ditemukan dengan harga di bawah kisaran Rp2 jutaan tergantung model dan penjual.
Evaporator, kompresor dan kondensor berada dalam satu unit.
Tidak ada outdoor unit terpisah.
Dan secara kebetulan, desain Hyundai H1 mempunyai area yang memungkinkan konsep pemasangan khusus pada bagian jendela samping belakang.
Konsep Window AC yang Sedang Dikembangkan
Tentu kita tidak ingin sebuah AC rumah menggantung permanen keluar dari jendela Hyundai H1.
Selain terlihat aneh, konstruksinya juga tidak ideal untuk kendaraan yang berjalan.
Karena itu konsep yang lebih masuk akal adalah sliding window AC.
Unit AC ditempatkan di dalam kendaraan dan ditopang struktur kabinet. Di bawah AC terdapat heavy-duty telescopic rail.
Ketika kendaraan berjalan atau AC tidak digunakan:
seluruh unit AC berada di dalam mobil.
Ketika mobil sudah parkir dan mobile office mulai digunakan, unit AC digeser keluar melalui bukaan yang dibuat pada area jendela belakang.
Bagian evaporator tetap menghadap kabin.
Sedangkan bagian kondensor berada di luar kendaraan sehingga panas dapat dibuang ke udara luar.
Sederhana secara konsep, meskipun konstruksinya tentu harus dibuat dengan hati-hati.
Rel harus mampu menopang berat AC, kabinet harus cukup kuat, bukaan jendela perlu dibuat rapi dan air kondensasi harus diarahkan keluar kendaraan.
Dan yang tidak kalah penting, sistem harus mempunyai pengunci sehingga AC tidak mungkin bergeser ketika mobil berjalan.
Justru Tidak Perlu Terlihat Seperti Campervan
Ini mungkin bagian desain yang paling saya sukai.
Mobile office tidak perlu mempunyai interior penuh kabinet kayu seperti campervan.
Bahkan semakin sederhana mungkin semakin baik.
Cukup pertahankan interior asli mobil sebanyak mungkin, kemudian tambahkan beberapa elemen utama: meja yang kokoh dan ergonomis, kursi yang nyaman atau memanfaatkan swivel seat bawaan, monitor tambahan bila diperlukan, portable power station, koneksi internet, pencahayaan kerja dan sistem pendingin ketika kendaraan berhenti.
Dengan pendekatan seperti ini, kendaraan tidak kehilangan fungsi utamanya.
Hari kerja bisa menjadi kantor.
Akhir pekan kembali menjadi mobil keluarga.
Dan ketika suatu hari memang ingin dipakai jalan-jalan, ruang belakang tetap fleksibel.
Kantor dengan Pemandangan yang Bisa Dipilih Sendiri
Setelah mencoba bekerja dari dalam H1, saya merasa daya tarik konsep ini bukan sekadar soal teknologi atau modifikasi kendaraan.
Yang menarik justru kebebasan memilih lingkungan kerja.
Ada hari ketika kita ingin bekerja di rumah.
Ada hari ketika ingin duduk di coffee shop.
Tetapi ada juga kondisi ketika kita membutuhkan ruang sendiri, monitor besar, meja proper, koneksi internet dan ketenangan — tanpa harus berada di ruangan yang sama sepanjang hari.
Di situlah mobile office mempunyai tempatnya sendiri.
Tidak perlu membawa kasur.
Tidak perlu membawa kompor.
Tidak perlu berpura-pura suka camping.
Bawa laptop, cari tempat parkir yang nyaman, putar kursi, buka meja dan mulai bekerja.
Karena ternyata van tidak selalu harus diubah menjadi rumah berjalan. Kadang-kadang yang kita butuhkan hanyalah kantor yang bisa berjalan.